| |
|
|
 |
 |
 |
| |
Sistem Informasi Penggunaan Kawasan Hutan (SIPKH) atau sebelumnya disebut Sistem Informasi Pinjam Pakai Kawasan Hutan (SIPPKH) adalah sistem informasi yang dibangun untuk dapat menghimpun dan melihat perkembangan hasil proses perizinan penggunaan kawasan hutan secara cepat dan online berupa izin kegiatan / penyelidikan umum / eksplorasi pertambangan, persetujuan prinsip penggunaan kawasan hutan, dan izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan dalam bentuk tabular dan spasial. |
| |
Pinjam pakai kawasan hutan adalah penggunaan atas sebagian kawasan hutan kepada pihak lain untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan tanpa mengubah status, peruntukan dan fungsi kawasan tersebut. |
| |
Untuk melihat total jumlah permohonan dan instansi-instansi yang pernah mengajukan permohonan diseluruh wilayah Indonesia, anda dapat meng-klik menu Status Permohonan. |
|
A. Peraturan yang Berlaku Saat Ini
|
|
1. Peraturan yang terkait
| a. |
UU 41 tahun 1999 Tentang Kehutanan pasal 38 (penjelasannya) |
| |
|
| b. |
PP Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berasal dari Penggunaan Kawasan Hutan untuk Kepentingan Pembangunan di luar Kegiatan Kehutanan yang berlaku pada Departemen Kehutanan. |
| |
|
| c. |
|
| |
|
| d. |
P.56/Menhut-II/2008 Tentang tata cara penentuan luas areal terganggu & areal reklamasi & revegetasi untuk perhitungan PNBP penggunaan kawasan hutan |
| |
|
| e. |
Permenkeu No. 91/PMK.02/2009 Tanggal 8 mei 2009 tentang tata cara pengenaan pemungutan & penyetaraan PNBP yang berasal dari penggunaan pinjam pakai kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kehutanan |
| |
|
| f. |
|
2. Pengajuan Permohonan Izin kegiatan / survey / eksplorasi, dan Pinjam Pakai Kawasan Hutan :
Permohonan pinjam pakai kawasan hutan diajukan oleh pimpinan Instansi Pemerintah / Direksi Perusahaan / Ketua Koperasi kepada Menteri, dengan tembusan disampaikan kepada :
| a. |
Sekretaris Jenderal Departemen Kehutanan; |
| |
|
| b. |
Direktur Jenderal Planologi Kehutanan; |
| |
|
| c. |
Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan; |
| |
|
| d. |
Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam; |
| |
|
| e. |
Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial; |
| |
|
| f. |
Kepala Balai Pemantapan Kawasan Hutan. |
3. Syarat permohonan Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan :
| a. |
Rencana kerja penggunaan kawasan hutan dilampiri dengan peta lokasi skala 1 : 50.000 atau skala terbesar pada lokasi tersebut dengan informasi luas kawasan hutan yang dimohon dan citra satelit terbaru dengan resolusi detail 15 (lima belas) meter atau resolusi lebih detail dari 15 (lima belas) meter dalam bentuk digital dan hard copy yang ditandatangani oleh pemohon dengan mencantumkan sumber citra satelit; |
| |
|
| b. |
Rekomendasi Bupati / Walikota bagi perizinan yang berkaitan dengan penggunaan kawasan hutan yang diterbitkan oleh Gubernur; |
| |
|
| c. |
Rekomendasi Gubernur bagi perizinan yang berkaitan dengan penggunaan kawasan hutan yang diterbitkan oleh Bupati/Walikota dan Pemerintah pusat; |
| |
|
| d. |
AMDAL yang telah disyahkan oleh instansi yang berwenang, kecuali untuk kegiatan yang tidak wajib menyusun AMDAL; |
| |
|
| e. |
Pertimbangan teknis dari Direktur Utama Perum Perhutani, apabila areal yang dimohon merupakan areal kerja Perum Perhutani; |
| |
|
| f. |
Izin atau perjanjian di sektor non kehutanan yang bersangkutan, kecuali untuk kegiatan yang tidak wajib memiliki perizinan / perjanjian. |
| |
|
| g. |
Pernyataan kesanggupan untuk memenuhi semua kewajiban dan menanggung seluruh biaya sehubungan dengan permohonan tersebut; |
| |
|
| h. |
Untuk kegiatan pertambangan yang diterbitkan oleh Gubernur atau Bupati sesuai kewenangannya, diperlukan pertimbangan dari Direktur Jenderal Mineral Batubara dan Panas Bumi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. |
4. Syarat permohonan izin Kegiatan survei dan penyelidikan umum/eksplorasi pertambangan
| a. |
Rencana kerja penggunaan kawasan hutan dilampiri dengan peta lokasi Skala 1 : 50.000 atau skala terbesar pada lokasi tersebut dengan informasi luas kawasan hutan yang dimohon, yang ditandatangani oleh pemohon; |
| |
|
| b. |
Rekomendasi Bupati / Walikota bagi perizinan yang berkaitan dengan pinjam pakai kawasan hutan yang diterbitkan oleh Gubernur; |
| |
|
| c. |
Rekomendasi Gubernur bagi perizinan yang berkaitan dengan penggunaan kawasan hutan yang diterbitkan oleh Bupati / Walikota dan Pemerintah Pusat; |
| |
|
| d. |
Pertimbangan teknis dari Direktur Utama Perum Perhutani, apabila areal yang dimohon merupakan areal kerja Perum Perhutani; |
| |
|
| e. |
Izin atau perjanjian di sektor non kehutanan yang bersangkutan, kecuali untuk kegiatan yang tidak wajib memiliki perizinan / perjanjian. |
| |
|
| f. |
Pernyataan kesanggupan untuk memenuhi semua kewajiban dan menanggung seluruh biaya sehubungan dengan permohonan tersebut. |
| |
|
| g. |
Untuk kegiatan pertambangan yang diterbitkan oleh Gubernur atau Bupati / Walikota sesuai kewenangannya, diperlukan pertimbangan dari Direktur Jenderal Mineral Batubara dan Panas Bumi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. |
5. Informasi lebih agar menghubungi pihak Petugas
| a. |
Direktur Penggunaan Kawasan Hutan |
| |
|
| b. |
Kepala Sub Direktorat Informasi Penggunaan Kawasan Hutan |
| |
|
| c. |
Kepala Seksi Informasi Penggunaan Kawasan Hutan Wilayah I (Sumatera, Jawa dan Nusa Tenggara) |
| |
|
| d. |
Kepala Seksi Informasi Penggunaan Kawasan Hutan Wilayah II (Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua) |
|
| |
|
|
B. Peraturan Lama
|
|
|
 |
 |
 |
| |
|
|
|
|
|
|